Kamis, 23 Oktober 2025

Selembar Kesunyian

    Aku melaju dengan kecepatan penuh, membelah jalanan Yogyakarta yang terkenal ramah dan padat penduduk. Mataku terpaku dengan keindahan lampu warna-warni yang terpantul di permukaan genangan air. Sebagian lampu itu terlindas oleh kuda besiku. Entah mengapa, rasa hangat menyelimutiku. Mengalir dari telapak kakiku hingga ujung-ujung rambut yang kututup kerudung hitam, warna kesukaanku. Hujan malam ini membuatku ingin berlama-lama di tengah jalanan, tetapi kasihan sekali kuda kecilku yang bersaing dengan kapsul-kapsul jalanan. Sungguh, kapsul-kapsul itu tidaklah banyak, akan tetapi ukurannya yang berbagai macam membuatku berulang kali menggerutu, "Apakah ini jalananmu, Tuan?". Belum lagi dengan lampu jauh yang mereka tekan untuk pengguna jalan lawan arah. 
    "Kau pikir, hanya kamu yang memiliki mata?!" teriakku setiap kali kapsul kecil itu melewatiku. Aku berharap tanganku menggenggam batu besar dan bisa ku lemparkan ke arah yang aku mau.
    Tapi, lagi-lagi aku teringat bahwa dunia ini tidak mendukung makhluk-makhluk kecil yang tertindas. Yang kaya mendukung sesama, yang kecil hanya menjalani hidup sambil tertatih di bawah. Keadilan sungguh tidak berjalan. Diriku sendiri pun tidak mempermasalahan itu, karena memang sudah sewajarnya dunia berjalan tidak adil. Tuhan takut hamba-Nya terlalu nyaman hingga enggan kembali kepada-Nya. Tahu, 'kan, maksudku?
    Kalau seseorang mengira aku adalah gadis sholehah yang rajin mencari uang hingga merelakan masa mudanya untuk bekerja, itu salah. Aku hanya gadis yang membutuhkan uang dan tdiak bisa bergantung dengan orang dewasa lainnya. Aku harus berdiri dengan kakiku  sendiri, berjalan dan menentukan arah sendiri, menyelesaikan permasalahan yang sengaja ataupun tidak sengaja aku buat. Begitulah hidup manusia kecil ini. Aku sungguh lelah dengan tuntutan orang-orang disekitarku yang ini itu dan bla bla bla. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan kebebasan, tidak terikat dengan tanggung jawab sebagai abdi negara abadi. Ah, sebentar. aku singgung Abdi Negara karena, tunanganku ingin mendaftar. 
    Sudah ku katakan aku tidak mau, bahkan sampai ibunya bertanya padaku. Bukan sombong, hanya... kakak dan adik dari ibuku semuanya Abdi Negara. Aku sudah berulang mendapatkan cerita baik dan tidak dari profesi itu. Salahkah aku tidak menginginkannya?
    Ah, lupakan saja! Malam ini aku berniat menghabiskan kesadaranku untuk menikmati tangisan langit. Kakiku merasakan kepuasan tanah melalui petrikornya. Aku tersenyum dan bernapas lega, sudah lama aku tidak melakukannya. Aku merasa, hanya alam yang dapat memahami keinginanku dan bersedia memberiku kepuasan melalui pernak-pernik keindahannya. 
    Tanganku menghentikan putaran stang motor hingga dia kehilangan kekuatan untuk berjalan. Tidak hanya ku diamkan, tapi juga ku tinggalkan dia sendirian ditepi jalan setelah menguncinya. Aku berjalan menjauh, duduk disalah satu kursi besi yang disediakan. Aku melihat lalu lalang orang-orang yang tengah pulang dari pekerjaan malam. Terlihat bapak-bapak mendorong gerobak tuanya melewatiku. Syukurlah aku masih bertahan hidup dan melihat keindahan lika liku dunia yang tidak adil ini. Bapak itu sempat menoleh padaku dengan senyum ramah khas Yogyakarta. Ku balas juga dengan senyuman sembari mengangguk sekali. 
    Andaikan dunia adil dengan orang-orang seperti kami, tidak perlu berhujan-hujan untuk mencari sumber kehidupan. Andaikan dunia meberikan tempat ternyamannya untuk kami, pastilah dunia ini sudah rusak sedari dulu. Begitulah manusia, penuh hasrat membunuh sesama jika tidak dikendalikan dengan baik. Aku yakin, Bapak itu baru saja menyelesaikan persaingan sengit dengan sesama pedagangnya. Ah, aku terlalu memikirkan orang lain. Pantas saja otakku tidak berfungsi untuk memikirkan diri sendiri.
    "Kok hujan-hujanan, Mbak?" tanya perempuan paruh baya dari kejauhan. Aku melihat payung yang menaunginya dari tangis malam hari ini. 
    Aku menatap diriku sendiri dan baru saja ku sadari tas yang aku bawa basah kuyup. Aku tidak terkejut meskipun aku baru saja menyadarinya. Aku merasa sudah tidak memiliki perasaan untuk terkejut maupun protes dengan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. "Iya, Bu."
    Ibu itu melihat kanan kemudian kiri, mencari celah untuk menyeberang. Aku yakin, Ibu itu akan menghampiriku dan... tanpa sengaja mataku menangkap seikat payung yang masih tersegel di tangannya. Benar saja dugaanku, tidak hanya menghampiriku Ibu itu juga menawariku payung yang masih tersegel. "Bawa saja, Mbak."
    Aku sempat terkesima dengan kebaikan Ibu ini yang ditengah kesulitan pun dia masih membantu orang lain. "Terimakasih, Ibu, tapi saya membawa jas hujan di motor saya." 
    "Sudah, dipakai saja. Ibu yang membutuhkanmu, bukan kamu yang membutuhkan Ibu."
    Aku mengernyit mendengar kalimat Ibu itu yang tak bisa aku pahami, "Maksudnya apa ya, Bu?" tanyaku dengan berani.
    "Sudah sepantasnya kita saling tolong menolong. Dosa Ibu terlalu banyak, siapa tahu dengan menolong Mbak Tuhan memberikan pengampunan meskipun hanya satu dosa. Di terima ya, Mbak!" katanya sembari tersneyum ramah dan lebar. 
    Jantungku sempat berhenti sejenak. Tuhan sangat adil. Di dunia yang sudah busuk ini masih ada penghuni yang tengah mencari amal baik untuk kembali pulang. "Iya, Bu. Terimakasih, ya, Ibu." Aku berterimakasih bukan karena aku menerima payung, tapi baru saja aku menerima peringatan dari Tuhan dari salah satu hamba-Nya. 
    Tak lama Ibu itu meninggalkanku, tentunya setelah aku membuka payung darinya. Aku tidak bisa memberikan apapun, tapi setidaknya dengan aku membuka payung dan menggunakannya, Ibu itu merasa apa yang ia lakukan memang berguna. Aku sadar, Tuhan memberikan pelajaran dari makhluk-makhluk-Nya.
    Setelah bermandian air hujan, pagi ini mentari menyapa cerah. Aku kembali menunggangi kuda besi dan berkeliling Yogyakarta. Kakiku menapaki jalan aspal agar tubuhku seimbang. Lampu merah membuatku jengah karena lama menunggunya. Di depanku terdapat pria dengan kisaran umur 50 tahun sedang mengendarani motor yang diikuti gerobak panjang di belakangnya. 
    'Hmmm... Bagaimana dengan hidupku yang tanpa jaminan ini? Apakah aku juga akan seperti bapaknya yang kemana-mana membawa gerobak panjang untuk berjualan bebek?' tanyaku dalam hati seolah mengkonfirmasi kehidupan dari bapak tersebut. 
    Tetiba ku dengan suara klakson motor di sebelahku, memprotes karena gerobak panjang menghalangi jalannya. Ku lihat ibu-ibu dengan ekspresi marah di sampingku. Keningku merespon dengan kernyitan memprotes tindakan ibu itu. Jalan disampingnya masih lebar untuk motor kecilnya menyusup, kenapa harus repot-repot membunyikan klakson untuk menyingkirkan gerobak panjang yang hanya menutup satu persen jalannya?
    Bukan marah ataupun menyalahkan, bapak pemilik gerobak itu menoleh dan menatap ibu itu dari bahunya. Ia menarik gas agar motor beserta gerobaknya dapat menyingkir dari jalan ibu itu. Aku bisa menihat tarikan bibirnya yang penuh sabar dan memaklumi. Ah, Tuhan, sungguh indah takdir yang Engkau perlihatkan untukku! 
    Aku adalah seorang pendosa. Tapi, aku berdoa untuk bapak itu agar diberikan rizky yang banyak oleh Tuhan. Entah dalam bentuk benda dunia, luasnya kesabaran, ataupun kesehatan yang orang lain kira baik-baik saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar