Minggu, 12 September 2021

SETITIK JIWA BARU SEBELUM USANG

         Prolog cerita dimulai pada November 2018, tepatnya di akhir semester satu—pembelajaran baru. Isi cerita disampaikan pada Mei 2019 dengan lika-liku alur dan kemarau panjang tahun itu. Ia berjalan sendirian di keramaian kota Yogyakarta, beranggapan bahwa tak ada satu pun yang mampu ia jadikan teman di dunia yang luas ini. Setiap kali berteman ia semakin menjauh hanya karena alasannya tak ingin melibatkan seseorang dalam hidupnya.

Sedikit cerita tentang sesosok gadis berwajah runcing yang senada dengan hidungnya, bermata bening, dan senyumnya yang khas selalu tercipta menyesuaikan lingkungannya. Berulang kali ia mengabaikan gertakan hati untuk memikirkan dirinya sendiri yang terkadang harus memaksa tertawa padahal hatinya terluka. Hanya saja ia sadar, bahwa tak seharusnya ia memaksa orang lain untuk mengerti perasaannya. Banyak problema dalam keluarganya menjadikannya gadis pembohong sejak beberapa tahun terakhir.

Ia pernah mempercayai seseorang jauh dari ia mempercayai diri sendiri. Namun, tak selang lama dirinya dikecewakan hanya karena seseorang yang dianggapnya teman itu bersama yang lain dan tak bercerita atau mendengarkan ceritanya lagi. Sejak saat itu ia tertutup dan tak mempercayai orang lain selain diri sendiri. Saat kecewa pun, ia hanya akan bercerita kepada diri sendiri dan juga menasehati. Ia memaksa dirinya sendiri untuk menjadi banyak orang dalam hidupnya.

Ya. Dia adalah Ayla. Dan tahun ini adalah setengah tahun dari kehilangannya. Masih di tahun yang sama. 2021.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, semua berawal pada November 2018 silam dan kemudian berkembang pada Mei 2019. Hanya dari sebuah prolog seorang pemuda mampu membuat seorang Ayla mempercayainya. Pemuda dengan karakteristik pendiam dan pintar. Pemuda itu juga terkenal di teman seangkatannya hingga banyak gadis-gadis yang tertarik dan sering membicarakannya.

“Siapa sih, dia?” tanya Ayla ketika berkumpul dengan teman-temannya.

Teman?

Teman yang bukan teman.

        “Lo nggak tahu dia?!” salah satu temannya histeris bertanya kembali.

    Ayla menggigit sosis spiralnya dan menggeleng ringan tak acuh.

    Begitulah Ayla. Gadis yang tidak mudah tertarik dengan gosip yang disebarkan sebelum ia membuktikan sendiri hingga pada tahun 2018 mereka mengikuti lomba yang sama mewakili sekolah dan pemuda itu meraih juara dua. Sedangkan Ayla sendiri hanya masuk dua puluh besar se-Nasional.

    Seiring berjalannya waktu, mereka semakin dekat. Pemuda yang kerap dipanggil Nathan oleh Ayla itu menjadi orang pertama yang mendengarkan cerita pribadinya. Bahkan gadis itu tak mampu menyembunyikan hal kecil dari Nathan. Nama yang sebenarnya dari pemuda itu adalah Ezra, namun Ayla lebih suka memanggilnya Nathan meskipun itu bukan nama Nathan yang sebenarnya.

    “Nathan, kalau suatu saat aku hilang, apa yang kamu lakukan?” tanya Ayla suatu hari bersandar di pundak Nathan sembari menatap senja yang mulai mengabur.

    “Nggak boleh. Kamu nggak boleh hilang apapun yang terjadi.”

    Tanpa sadar, Ayla menyayanginya. Menyayangi seorang pemuda yang selalu dianggapnya teman dan rela mendengarkan ocehan tak bermutunya. Namun…

    Nathan adalah pacar dari temannya.

    “Kenapa aku nggak boleh hilang?”

  “Buat apa kita jalan setiap weekend, chat-an everytime, video-call everynight kalau ujungnya kita pisah?”

    Retoris Nathan membuat Ayla tersentak dan kontan berfikir, Nathan mencintainya?

    Berjalannya keadaan selalu membawa perubahan antara dirinya dan Nathan. Konteks utama yang selalu berubah adalah perasaan mereka. Ayla selalu mengkhawatirkan Nathan jika tak ada kabar dari pemuda itu meskipun hanya seperempat hari. Namun keduanya tak pernah mengungkapkan satu sama lain.

***

    Gaun putih menjuntai, memenuhi lantai kamar seseorang yang tengah duduk diam di depan kaca rias memandangi dirinya sendiri yang tengah menunggu seseorang dengan raut cemas. Ia menggunakan gaun yang sedikit terbuka dibagian bahu. Terlihat cantik dan menawan. Namun wajahnya yang menawan itu hanya menampilkan raut khawatir sembari berulang kali memainkan jemarinya diatas meja.

    Ia menatap rambutnya yang disanggul, hanya menyisakan sedikit di kanan-kirinya, “Aku akan menikah?” retorisnya.

    Ia memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi dengan tatapan yang masih cemas.

    ‘Dimana dia?’  tanyanya dalam hati karena pemuda yang ia undang tidak menghubunginya.

     Ia menatap jam digitalnya diatas meja, ‘Kurang 30 menit,’ katanya dalam hati memutuskan untuk menanyakan langsung kepada pemuda itu, Nathan.


    Ayla         : Nathan, kamu dimana? Acaranya udah mau mulai, lho.


    Tak lama perlu menunggu lama, pesan Ayla dibalas oleh Nathan.


    Nathan : Disini. Aku nggak bisa kesana, Ayla.

    Ayla         : Why?! Aku nggak mau kalau nggak ada kamu, Nathan.

    Nathan : ☺


    Tak seperti biasa Nathan menjawab pesan Ayla hanya dengan satu emoticon ambigu. Ada apa dengan Nathan? Dimana Nathan?


    Ayla         : Nathan, ke sini, sih 🥺

    Nathan : Nggak mau


    Ayla tak habis pikir dengan Nathan. Meskipun dirinya menggunakan kata-kata manja, balasan Nathan justru terkesan ketus dan benci dengan perintahnya.

 

    Ayla         : Kenapa? Ini hari terakhir aku bisa bebas chat-an sama kamu lho, Nathan.

    Nathan : Iya. Makanya itu aku nggak mau kesana.

    Ayla         : Nathan, besok aku udah nggak bisa ketemu kamu. Nggak bisa chat-an sama kamu. Apalagi telepon dan VC.

    Nathan     : Heem.


    Ayla membelalak dengan jawaban Nathan, Apa maksudnya heem?


    Ayla         : Nathan, kesini, Nath 🥺

    Nathan        : Nggak.

    Ayla         : Kenapa?

    Nathan        : Aku mau latihan.

    Ayla         : Latihan apa? Ngerjain tugas?

    Nathan : Iya. Tapi enggak.

    Ayla         : Nathan, aku nangis lho 🥺. Ini momen penting lho, Nath. 

    Nathan : Udah, sih. Cup cup cup. Nggak usah nangis . Sana buruan dimulai.

    Ayla         : Nathan, kamu itu ambigu tahu nggak?!


    Ayla membelalak ketika Nathan tidak fast respond seperti sebelumnya. Apa terjadi sesuatu dengan Nathan?


    Ayla        : Nath!!!

    Ayla        : Nathan!!!

    Ayla        : Nathan Jeleekk 🤬!!! Ya Tuhan, Nathan kesini…


    Ayla kembali menoleh menatap jam digitalnya kembali. Ia menghela nafas ketika  menyadari acara akan di mulai lima belas menit lagi. Ingin sekali air matanya meluruh keluar hanya karena pemuda yang berniat tidak akan datang di hari pentingnya.

    Tepat kurang lima menit acara dimulai, Nathan membalas.


    Nathan : Aku nggak mau ngerusak momenmu hanya karena aku. Menikahlah, Ayla. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir.


    Ayla tersentak, kontan ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu,

    Ia menatap jemarinya yang saling tertaut, “Nathan, aku pikir lebih baik kita menjauh, deh.”

    Nathan menoleh sembari mengangkat alis kanannya, “Kenapa?”

    “Takutnya nanti kita sama-sama terkejut ketika kita udah punya keluarga masing-masing. Apalagi aku sama kamu deketnya kaya gini, kaya orang pacaran.” 

    “Terus apa gunanya kita deketnya kaya gini kalau pada akhirnya juga pisah?” 

    Retoris Nathan masih terdengar jelas dalam otaknya, terpaku kuat dalam hatinya hingga saat ini. Kemudian dia teringat kembali dengan kalimatnya beberapa tahun yang lalu.

    “Semisal suatu saat ada seseorang yang bisa merubah perasaanku ke kamu, aku tetap milih kamu, Nathan. Karena aku lebih dulu kenal kamu dan paham kamu daripada orang itu.”

    Ia menatap ponselnya yang masih menyala dan mulai membalas pesan Nathan.


    Ayla         : Nathan,

    Nathan : Iya, Ayla.

    Ayla         : Kesini, Nath.

    Nathan : Nggak mau, Ayla.

    Ayla         : Sebentar. Aku pengen kasih kabar ke kamu.

    Nathan : Apa, Ayla?

    Ayla         : Kesini dulu.

    Nathan : Acaranya udah selesai?

    Ayla         : Enggak.

    Nathan : Hah?

    Ayla         : Aku batal nikah.

    Nathan : Kenapa?

    Ayla         : Aku pengen ketemu kamu. Udah. Itu aja.

***

    “Hhhh…hhhh…hhhh….”

    Ayla membuka matanya sembari mengatur ritme nafasnya yang seolah dirinya baru saja menempuh lari maraton berkilo-kilometer. Ia menghela nafas kemudian mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangannya.

    “Nathan…,” gumamnya sembari duduk bersandar di ranjangnya, Kenapa mimpinya harus kayak itu?

    Ia menyalakan ponselnya menatap kalender di lockschreen-nya, “Oktober 2020,” gumamnya kedua kali.

    Ia melanjutkan gerakan jemarinya mengusap ponselnya dan membuka whatsapp. Ia mendapatkan dua pesan dari Nathan.

    Deg.

    Jantungnya berhenti disusul kakinya yang lemas dan matanya yang ingin keluar ketika membaca pesan dari Nathan.


    Nathan : Ayla,

    Nathan : Aku sayang kamu 🤗


    “Yogyakarta 2020,” ujar Ayla.

(To be continue)